Jaman makin tidak bersahabat pada mereka yang bersahabat dengan dunia. Kehidupan makin diwarnai warna yang tidak lazim.ada yang jadi gila harta, gila kedudukan, gila wanita, dan terakhir yang mulai marak gila mencari cinta manusia. Dulu saat remaja kita berpikir tentang love at the first sight. Rasanya indah sekali, buat kita termangu-mangu, tersenyum-senyum sendiri, bersemangat pergi ke sekolah, riang tidak jelas, bernyanyi-nyanyi lagu romantis, jadi puitis, dan hal-hal sedih pun terjadi menangis, meringis, kadang-kadang jadi manis depresif plus pusing yang diiringi dengan mual serta keringat dingin (bukan hamil lho...), hanya karena mereka yang telah membangkitkan hasrat kita pada masa itu tak berlaku selayaknya kita harapkan.
Lalu waktupun berjalan, bertemu teman, sahabat, kecengan, dan terakhir bertemu pasangan. Hidup pun dimulai, yang sesungguhnya....pernikahan adalah sebuah kata yang kata beberapa orang memiliki definisi sebagai berikut...
PENDERITAAN YANG DIPILIH DENGAN SADAR DAN SUKARELA...hehehe...kata beberapa orang lho.Tapi saya menolaknya.
Pernikahan adalah perahu kebahagiaan yang kita pilih dengan ombak di hadapannya serta membutuhkan kemauan dan kerelaan di dalamnya untuk terus mendayung dan bertahan saat badai menerjang...(u/ yg agama Islam, ternyata ibadahnya orang yang menikah memiliki nilai 70x lipat dari mereka yang belum menikah).
Awalnya ringan menyatakannya, tapi ternyata tak seringan itu menjalankannya. Pernikahan saya adalah sebuah kehidupan yang dinamis, seperti roller coaster...ada tawa, rasa senang, bahagia, tapi juga tak jarang kecemasan menyapa, ketakutan menyeruak, bahkan jeritan derita muncul tanpa rencana. Semua itu sudah sunatullah yang harus dijalani.
Terkait jaman yang sudah mulai tak ramah, pernikahan sekarang tidak lagi dapat aman dari kata SELINGKUH. Lingkungan tempat saya berjalan, kemarin, sekarang, dan yang akan datang akan terus menyajikan itu di depan mata. Sungguh perih melihat seorang istri atau suami sudah tidak lagi memikirkan suami atau istri dan anak-anak mereka, bahkan nyaris Tuhan pun hilang dari pandangan saat seseorang terjerumus di dalamnya. Kehadiran orang lain seakan menjadi obat akan derita yang mereka pahami, bahkan mereka hadir tanpa cela. Perhatian sesaat orang lain bahkan telah menghapus segala memori hati tentang kebaikan mereka yang telah mengasihinya. Adakah cinta datang pada mereka yang telah mengkhianati sebuah janji yang terucap di hadapan Tuhan. Itukah cinta? Mungkin ada yang tidak merasakan cinta karena hanya nafsu biologis yang terpuaskan. Tapi bagaimana dengan mereka yang mabuk dengan merasa ada cinta di dalamnya. Seperti kembali ke dunia remaja, kadang itu yang membuat saya tidak habis pikir...ternyata manusia benar-benar makhluk yang lemah. Seakan tak mampu lagi berpikir dengan baik, kedewasaaan seseorang segera terenggut oleh atamorgana mimpi akan rasa cinta yang mungkin masih harus dipertanyakan...benarkah itu cinta? Hebatnya lagi, kadangkala ada yang tak mampu sadar diri dari keterpurukan itu...melawan terus keadaan yang tak perlu dilawan, justru tak melawan yang harus dilawan. Berguguranlah keluarga bahagia, anak yang terabaikan kebutuhan batinnya, ketiadaan sosok ibu atau ayah yang menjadi tutor kehidupan. Sesaat semua seperti melayang...lalu saatnya tiba datang kesadaran (yang memang sadar yah...). Segera diselamatkan Allah karena mau menyelamatkan imannya sendiri (mgk juga terbantu doa mereka yang mengasihinya). Beranjak semua menuju keutuhan jiwa dan mengembalikan juga keutuhan keluarga. Mereka yang tersakiti segera menyembuhkan diri dan memaafkan.
Kata temanku yang berpengalaman masalah ini, selingan ini terjadi karena memang di luar sana ada mereka yang tak punya integritas hidup, ada mereka yang tak mampu berdiri tegar menghadapi hidup, dan seringkali itu semua ada pada perempuan. kenapa yah? Perempuan katanya makhluk yang lemah tapi ternyata dalam mentalnya dan jiwanya (saya sedang berada di luar lingkaran gender manapun, tapi tetep perempuan lho...) mereka lebih kuat dan lebih tahan menghadapi perihnya hidup. Mungkin karena itulah surga ada di telapak kaki Ibu...Tapi kenapa perempuan sering disalahkan sebagai penyebab perselingkuhan? (bagi saya, laki-laki juga punya peran, cuma katanya juga mana ada kucing nolak ikan, kalo lagi laper, yang busuk juga diembat, hehehe...). Saya melihat kekuatan mental dan jiwa perempuan itu juga yang menjadi kekuatan bagi dia saat dia merasa ada peluang untuk meraih kebahagiaan yang dia pikir itu yang terbaik baginya. Sehingga berlanjut dari keyakinan ini diapun rela menyajikan dirinya sebagai ikan terbaik bagi kucing yang sedang kelaparan dan kedinginan, hehehe...topik nya jadi ikan dan kucing nih...
Nah, karenanya memang perempuan itu menjadi tiang negara...kalau perempuannya rusak, rusaklah negara...sebab dari rahim perempuan,anak bangsa lahir.Jadi jika rahimnya (baca: jiwa dan kemuliaan perempuan)tak terjaga dengan baik, bisa dibayangkan kan anak bangsa apa yang kan tampil. Itulah kenapa saya berpendapat bahwa dalam perselingkuhan, perempuan memegang peranan penting untuk mau melanjutkan dorongan terlarang itu atau tidak.
Nah untuk mereka yang sudah terlanjur menyakiti dan disakiti, udah deh saling memaafkan saja...karena seringkali itu terjadi bukan karena perasaan yang sesungguhnya tapi lebih karena ada saja yang iseng, kurang kerjaan, kurang perhatian (yuk kita perhatiin lebih lagi pasangan kita), kurang iman, kurang moral, dan kadang-kadang memang ada saja yang kurang ajar (ups...maaf yah...). Jadi tidak selalu penyebab perselingkuhan itu adalah karena kekurangan yang ada pada pasangan sesungguhnya, bisa jadi karena ketidakdewasaan dan kelemahan iman seseorang menghadapi ujian hidup. J
adi, karena tidak ada manusia yang sempurna, buat yang keluarganya kena musibah perselingkuhan segera menyatu kembali, pinggirkan mereka yang telah meretakkan, saling menerima, memaafkan, dan jadikan keindahan dari keretakan yang telah terjadi. Insya Allah setelahnya kita jadi manusia yang lebih baik. Mari kita wujudkan keluarga utuh dari selingan indah yang terlarang...lalu biarkan Tuhan bekerja untuk kita karena kita telah bersedia merubah nasib kita.
(teruntuk suamiku...terima kasih ya Allah...terima kasih sayang...untuk kebersediaanmu dan atas kekuatan hatimu untuk meraih cinta Illahi bersamaku selama 7 tahun ini. Bersama ridho Allah kita bisa singkirkan kerikil-kerikil kehidupan...insya Allah sampai ajal menjemput;
PS: hindari perselingkuhan ya sayang...berlaku juga untukku tentunya...*peace*:)
Tampilkan postingan dengan label happy family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label happy family. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 Februari 2011
Kamis, 10 Desember 2009
LIBURAN
“LIBUR TELAH TIBA…HATIKU GEMBIRA”
“Liburan sekolah adalah waktunya refreshing dan menambah wawasan tentang berbagai kebubudayaan yang tidak didapat di sekolah” (Nana, 40 th, ibu rumah tangga)
“Kemauan anak adalah prioritas pertama dalam menentukan tujuan liburan” (Ninik, 39 th, pegawai swasta)
“Pada saat liburan, saya lebih suka mengajak anak dan keluarga untuk pergi ke tempat-tempat yang tenang untuk beristirahat dan berkumpul bersama dibandingkan pergi ke tempat-tempat hiburan” (Ade, 30 th, manager finance)
Orangtua kerap kali harus berpikir ekstra untuk menemukan format liburan yang tepat bagi anak-anak tercinta setelah hampir setahun penuh mereka berkutat dengan pelajaran dan tes-tes yang menuntut anak untuk bekerja keras.
Hakikatnya sebuah acara liburan haruslah merupakan hal yang menyenangkan bagi yang bersangkutan. Oleh karenanya penting bagi anak melakukan kegiatan yang menyenangkan dirinya. Manfaat dari suasana liburan yang menyenangkan tentunya memberikan udara segar, suasana hati yang positif, dan perasaan gembira yang dapat mendukung anak untuk kembali menghadapi tantangan pada hari-hari berikutnya. Untuk itulah orangtua perlu menggali harapan dan impian anak untuk mengisi liburannya. Tentu saja dengan tetap memperhatikan hal dan nilai positif lainnya yang dapat menjadi nilai tambah bagi anak dari aktifitas yang dijalaninya.
Jika diamati dari sudut pandang psikologi perkembangan anak, pada dasarnya anak selalu membutuhkan stimulasi yang positif dalam kesehariannya untuk meningkatkan fungsi-fungsi intellegensinya dalam kehidupan. Oleh karena itu dalam masa liburan semaksimal mungkin orangtua dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk menjalani aktivitas yang mempunyai nilai bermain, berelaksasi, sekaligus juga memiliki nilai tambah lain yang dapat bermanfaat bagi anak. Mengisi waktu liburan dengan mengunjungi mal-mal atau menonton TV di rumah tentu tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk mempunyai aktifitas yang sarat nilai positifnya. Lalu apa yang seharusnya dilakukan orangtua dalam menyusun strategi berlibur untuk anak? Orangtua tidak perlu merasa terbebani dalam menyikapi hal ini.
Jika kita perhatikan belakangan ini marak sekali tumbuh bisnis yang menawarkan program liburan yang cukup menarik bagi anak-anak. Beberapa program liburan menawarkan nilai tambah bagi si anak. Sebut saja program keluar kota untuk melakukan outbound di tampat-tempat yang sudah dirancang khusus untuk kepentingan itu. Dalam program ini banyak sekali hal positif yang dapat dirasakan anak. Yang pertama belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri. Bagi mereka yang sebut saja aden karena biasa diladeni ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Meskipun tuntutan untuk mengurus keperluannya secara mandiri pada awalnya dirasa tidak menyenangkan namun semua itu akan sirna tatkala anak menemukan kesenangan lain dalam aktifitas-aktifitas seperti memanjat tebing, melakukan flying fox, dan berarung jeram. Dalam program ini anak juga jadi mengenal alam, karena dalam kesehariannya anak-anak tinggal di dekat sungai, di tepi bukit, di tengah hutan, ataupun di pinggir pedesaan. Ada juga program-program yang menawarkan kegiatan seperti menanam bibit padi, menangkap belut, ataupun sekedar melukis di alam bebas.
Disisi yang lain anak juga jadi belajar mengenal kehidupan lapisan masyarakat lain seperti petani dan lain-lain, sehingga diharapkan dapat berempati pada keadaan orang yang berbeda dengan dirinya. Dalam kegiatan ini juga anak-anak belajar untuk mawas diri sendiri, untuk mempunyai kontrol terhadap dirinya sendiri, dan juga untuk perduli pada orang lain karena anak menjalani kegiatan ini juga dalam format kelompok. Biasanya mereka punya tugas kelompok selama program berjalan dan tugas akhir kelompok besar yaitu melakukan performance di hadapan para orangtua saat hari terakhir mereka yaitu saat mereka dijemput oleh orangtua masing-masing. Hal ini sangat merangsang motivasi anak untuk mampu bekerja sama mencapai tujuan bersama diharapkan anak terolah emosinya, dengan tujuan mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam hidup berkelompok.
Berdasarkan pengamatan mendalam terhadap rangkaian program outbound yang pernah ada, respon orangtua maupun anak sangat positif. Bahkan tidak jarang orangtua yang melaporkan adanya perubahan pada sikap dan diri anak-anak mereka setelah pulang dari kegiatan outbound tersebut. Yang tadinya manja menjadi lebih mandiri, yang tadinya pemarah menjadi lebih lunak, dan mereka yang tadinya pendiam menjadi lebih ceria. Hal penting yang dapat ditarik dari proses yang terdapat dalam program outbound adalah bahwa program ini sangat mendukung anak dalam melewati tugas perkembangannya sebagai anak, untuk menjadi pribadi yang mandiri, matang, dan mampu mengaktualisasikan dirinya secara sehat dan bermanfaat. Betapa liburan seperti ini memberikan kesan dan manfaat yang mendalam bagi anak dan juga orangtua tentunya.
Selain outbound masih banyak hal lain yang dapat kita tawarkan pada anak untuk mengisi liburannya sesuai dengan minat dan keinginannya agar menjadi menyenangkan, bermanfaat, dan berkesan sehingga tak terlupakan bagi anak. Kegiatan-kegiatan yang dapat menyalurkan hobi anak juga akan sangat mendukung suasana hati anak selama liburan. Mulai dari memancing, kursus membatik, program kilat bahasa selama liburan, kursus kilat menajdi presenter, ataupun pelatihan jurnalistik bagi anak-anaki.
Belakangan ini banyak institusi sekolah yang membuka jasa mengisi waktu liburan dengan istilah “Summer School" untuk membantu orangtua dalam mengolah dan mengatur waktu liburan anak yang relatif cukup panjang. Kegiatan yang ditawarkan sekolah-sekolah ini relatif menarik karena dikemas dalam bentuk permainan ataupun penyaluran bakat seperti memasak, berkebun, dan lain-lain.
Akhirnya, kegiatan yang kita arahkan pada anak untuk dilakukan selama liburan, haruslah mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Merupakan hal yang disenangi oleh anak yang bersangkutan sehingga bukan merupakan kewajiban ataupun paksaan bagi anak untuk menjalaninya
2. Sesuai dengan tahapan dan karakter usia anak, sehingga sesuai dengan kapasitas anak untuk menjalaninya
3. Memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar mendalami sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang baru dari hal tersebut
4. Membuka kesempatan bagi anak untuk dapat mengembangkan minat dan bakatnya
“Liburan sekolah adalah waktunya refreshing dan menambah wawasan tentang berbagai kebubudayaan yang tidak didapat di sekolah” (Nana, 40 th, ibu rumah tangga)
“Kemauan anak adalah prioritas pertama dalam menentukan tujuan liburan” (Ninik, 39 th, pegawai swasta)
“Pada saat liburan, saya lebih suka mengajak anak dan keluarga untuk pergi ke tempat-tempat yang tenang untuk beristirahat dan berkumpul bersama dibandingkan pergi ke tempat-tempat hiburan” (Ade, 30 th, manager finance)
Orangtua kerap kali harus berpikir ekstra untuk menemukan format liburan yang tepat bagi anak-anak tercinta setelah hampir setahun penuh mereka berkutat dengan pelajaran dan tes-tes yang menuntut anak untuk bekerja keras.
Hakikatnya sebuah acara liburan haruslah merupakan hal yang menyenangkan bagi yang bersangkutan. Oleh karenanya penting bagi anak melakukan kegiatan yang menyenangkan dirinya. Manfaat dari suasana liburan yang menyenangkan tentunya memberikan udara segar, suasana hati yang positif, dan perasaan gembira yang dapat mendukung anak untuk kembali menghadapi tantangan pada hari-hari berikutnya. Untuk itulah orangtua perlu menggali harapan dan impian anak untuk mengisi liburannya. Tentu saja dengan tetap memperhatikan hal dan nilai positif lainnya yang dapat menjadi nilai tambah bagi anak dari aktifitas yang dijalaninya.
Jika diamati dari sudut pandang psikologi perkembangan anak, pada dasarnya anak selalu membutuhkan stimulasi yang positif dalam kesehariannya untuk meningkatkan fungsi-fungsi intellegensinya dalam kehidupan. Oleh karena itu dalam masa liburan semaksimal mungkin orangtua dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk menjalani aktivitas yang mempunyai nilai bermain, berelaksasi, sekaligus juga memiliki nilai tambah lain yang dapat bermanfaat bagi anak. Mengisi waktu liburan dengan mengunjungi mal-mal atau menonton TV di rumah tentu tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk mempunyai aktifitas yang sarat nilai positifnya. Lalu apa yang seharusnya dilakukan orangtua dalam menyusun strategi berlibur untuk anak? Orangtua tidak perlu merasa terbebani dalam menyikapi hal ini.
Jika kita perhatikan belakangan ini marak sekali tumbuh bisnis yang menawarkan program liburan yang cukup menarik bagi anak-anak. Beberapa program liburan menawarkan nilai tambah bagi si anak. Sebut saja program keluar kota untuk melakukan outbound di tampat-tempat yang sudah dirancang khusus untuk kepentingan itu. Dalam program ini banyak sekali hal positif yang dapat dirasakan anak. Yang pertama belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri. Bagi mereka yang sebut saja aden karena biasa diladeni ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Meskipun tuntutan untuk mengurus keperluannya secara mandiri pada awalnya dirasa tidak menyenangkan namun semua itu akan sirna tatkala anak menemukan kesenangan lain dalam aktifitas-aktifitas seperti memanjat tebing, melakukan flying fox, dan berarung jeram. Dalam program ini anak juga jadi mengenal alam, karena dalam kesehariannya anak-anak tinggal di dekat sungai, di tepi bukit, di tengah hutan, ataupun di pinggir pedesaan. Ada juga program-program yang menawarkan kegiatan seperti menanam bibit padi, menangkap belut, ataupun sekedar melukis di alam bebas.
Disisi yang lain anak juga jadi belajar mengenal kehidupan lapisan masyarakat lain seperti petani dan lain-lain, sehingga diharapkan dapat berempati pada keadaan orang yang berbeda dengan dirinya. Dalam kegiatan ini juga anak-anak belajar untuk mawas diri sendiri, untuk mempunyai kontrol terhadap dirinya sendiri, dan juga untuk perduli pada orang lain karena anak menjalani kegiatan ini juga dalam format kelompok. Biasanya mereka punya tugas kelompok selama program berjalan dan tugas akhir kelompok besar yaitu melakukan performance di hadapan para orangtua saat hari terakhir mereka yaitu saat mereka dijemput oleh orangtua masing-masing. Hal ini sangat merangsang motivasi anak untuk mampu bekerja sama mencapai tujuan bersama diharapkan anak terolah emosinya, dengan tujuan mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam hidup berkelompok.
Berdasarkan pengamatan mendalam terhadap rangkaian program outbound yang pernah ada, respon orangtua maupun anak sangat positif. Bahkan tidak jarang orangtua yang melaporkan adanya perubahan pada sikap dan diri anak-anak mereka setelah pulang dari kegiatan outbound tersebut. Yang tadinya manja menjadi lebih mandiri, yang tadinya pemarah menjadi lebih lunak, dan mereka yang tadinya pendiam menjadi lebih ceria. Hal penting yang dapat ditarik dari proses yang terdapat dalam program outbound adalah bahwa program ini sangat mendukung anak dalam melewati tugas perkembangannya sebagai anak, untuk menjadi pribadi yang mandiri, matang, dan mampu mengaktualisasikan dirinya secara sehat dan bermanfaat. Betapa liburan seperti ini memberikan kesan dan manfaat yang mendalam bagi anak dan juga orangtua tentunya.
Selain outbound masih banyak hal lain yang dapat kita tawarkan pada anak untuk mengisi liburannya sesuai dengan minat dan keinginannya agar menjadi menyenangkan, bermanfaat, dan berkesan sehingga tak terlupakan bagi anak. Kegiatan-kegiatan yang dapat menyalurkan hobi anak juga akan sangat mendukung suasana hati anak selama liburan. Mulai dari memancing, kursus membatik, program kilat bahasa selama liburan, kursus kilat menajdi presenter, ataupun pelatihan jurnalistik bagi anak-anaki.
Belakangan ini banyak institusi sekolah yang membuka jasa mengisi waktu liburan dengan istilah “Summer School" untuk membantu orangtua dalam mengolah dan mengatur waktu liburan anak yang relatif cukup panjang. Kegiatan yang ditawarkan sekolah-sekolah ini relatif menarik karena dikemas dalam bentuk permainan ataupun penyaluran bakat seperti memasak, berkebun, dan lain-lain.
Akhirnya, kegiatan yang kita arahkan pada anak untuk dilakukan selama liburan, haruslah mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Merupakan hal yang disenangi oleh anak yang bersangkutan sehingga bukan merupakan kewajiban ataupun paksaan bagi anak untuk menjalaninya
2. Sesuai dengan tahapan dan karakter usia anak, sehingga sesuai dengan kapasitas anak untuk menjalaninya
3. Memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar mendalami sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang baru dari hal tersebut
4. Membuka kesempatan bagi anak untuk dapat mengembangkan minat dan bakatnya
Langganan:
Postingan (Atom)
Strike!
Kesadaran Literasi Anak Usia Dini
Pernah dimuat di https://zedutopia.wordpress.com/2019/10/30/eksplorasi-sensori-awal-kesadaran-literasi/ EKSPLORASI SENSORI AWAL KESADA...
-
Pernah dimuat di https://zedutopia.wordpress.com/2019/10/30/eksplorasi-sensori-awal-kesadaran-literasi/ EKSPLORASI SENSORI AWAL KESADA...
-
Segala pertanyaan di hadapan kita sering membuat hati ataupun mulut kita harus menjawab ya atau tidak.Kadang saat mulut tak dapat bicara, ma...